Penulis: Sumali
TVRINews, Bojonegoro
Masjid Jami' Nurul Huda di Desa Canga'an, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur diketahui merupakan masjid tertua di wilayah tersebut.
Masjid yang berada dekat dengan bantaran Bengawan Solo ini telah ada sejak 300 tahun atau 3 abad yang lalu.
Masjid Jami' Nurul Huda yang berdiri kokoh sejak tiga abad lalu itu, dapat diketahui berdasarkan relief tulisan yang terpampang di area pintu masuk.
Baca Juga: Jejak Kampung Islam Kepaon Bukti Toleransi di Bali
Masjid ini dibangun pada zaman Mataram Islam, tepatnya tahun 1262 Hijriyah atau sekitar tahun 1846 Masehi.
Meski dikenal sebagai masjid tertua di Bojonegoro, namun bangunan masjid ini telah beberapa kali mengalami pemugaran sehingga tampak seperti masjid modern pada umumnya, terkecuali daun pintu yang masih asli yang terbuat dari kayu jati tua berelief kaligrafi dan aksara Jawa.
Ketua takmir Masjid Jami' Nurul Huda, Abdul Hakim menjelaskan, masjid ini dibangun oleh seorang senopati Kerajaan Mataram Islam bernama Ki Ageng Wiroyudo.
"Saat itu, sang senopati sedang dalam pelarian dari kejaran pemerintahan kolonial Belanda. Beliau yang menyusuri Bengawan Solo dengan rakit lantas bersandar di sekitar Desa Canga'an," kata Abdul Hakim, Minggu, 9 April 2023.
"Setelah itu ia pun membangun sebuah surau kecil yang digunakan tak hanya untuk dirinya sendiri namun juga warga sekitar dalam beribadah,” tambah Abdul Hakim.
Baca Juga: Gunongan, Bukti Cinta Sultan Iskandar Muda Kepada Sang Permaisuri
Adapun sejak pertama kali didirikan, masjid ini telah mengalami tiga kali renovasi. Beberapa perlengkapan yang masih asli dan tersimpan hingga kini antara lain adalah bedug, peti kayu jati berusia 342 tahun serta alas lantai atau karpet yang pernah digunakan menyambut kedatangan presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno.
Selain itu, ada pula sebuah bencet atau alat penunjuk waktu shalat zaman dahulu yang di terletak di area samping masjid.
Hingga kini Masjid Jami' Nurul Huda masih menjadi pusat kegiatan masyarakat untuk beribadah dan kegiatan keagamaan lainnya.
Editor: Redaktur TVRINews
