TVRINews, Jakarta
Kementerian Kebudayaan undang empat negara buka paviliun dan siapkan roadmap perfilman nasional.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat posisi Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) sebagai pasar film internasional utama bagi Indonesia. Langkah ini diambil sebagai upaya menghadirkan etalase film nasional yang kompetitif di kancah global.
Dalam diskusi bersama Yayasan Sinema Yogyakarta di kantor Kementerian Kebudayaan, Fadli Zon menyampaikan bahwa Indonesia membutuhkan platform atau pasar film yang stabil untuk menarik minat investasi dunia.
"Kita harus percaya diri bahwa JAFF ini sudah layak menjadi etalase internasional. Kerja sama internasional juga harus ditampilkan di JAFF, agar ia menjadi wajah Indonesia di tingkat global," ujar Fadli Zon dalam keterangan yang diterima, Selasa, 5 Mei 2026.
Gandeng Korea Selatan hingga Rusia
Pertumbuhan industri film Indonesia saat ini tengah menjadi sorotan internasional. Salah satu indikatornya adalah meningkatnya minat kerja sama ko-produksi dari Korea Selatan yang secara aktif mencari mitra di Indonesia.
Sebagai langkah konkret penguatan JAFF Market, Kementerian Kebudayaan berencana mengirimkan surat undangan resmi kepada empat negara, yakni Cina, Prancis, Arab Saudi, dan Rusia, untuk membuka paviliun internasional di ajang tersebut. Kehadiran paviliun mancanegara diharapkan menjadi daya tarik utama bagi para pelaku industri global.
Transformasi Aset Negara: Bioskop Dolby Surround di Museum Nasional
Selain dukungan diplomasi, pemerintah juga berencana memanfaatkan aset negara untuk mendukung ekosistem perfilman. Salah satu rencana strategis yang diungkapkan Menbud adalah mengubah teater di Museum Nasional Indonesia menjadi bioskop modern.
"Potensi pasar film kita sangat besar, termasuk ketertarikan investasi dari Tiongkok pada sektor layar bioskop. Kami berencana mengubah teater di Museum Nasional menjadi bioskop berkapasitas 237 kursi dengan teknologi Dolby Surround," tambah Menbud.
Fokus pada Literasi dan Ekosistem
Di sisi lain, Direktur Festival JAFF, Ifa Isfansyah, menekankan pentingnya membangun kesadaran penonton melalui literasi film. Melalui program seperti *JAFF Kids*, pihaknya berupaya membangun apresiasi sejak dini.
"Melalui festival, market, dan komunitas, JAFF diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun ekosistem perfilman yang progresif," jelas Ifa.
Dalam pengembangan ekosistem ini, peran pemerintah akan difokuskan pada tiga fungsi utama: pendampingan, fasilitasi, dan dukungan kebijakan, termasuk penyusunan peta jalan (roadmap) pengembangan JAFF yang selaras dengan kebijakan nasional.
Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra, serta jajaran Staf Ahli Menteri dan Direktur di lingkungan Kementerian Kebudayaan.










