TVRINews, Jepang
Grup hardcore asal Bandung Taring sukses mengguncang panggung musik bawah tanah di Jepang melalui rangkaian tur bertajuk “Taring Nippon Onslaught 2026” yang berlangsung pada 17–22 April 2026.
Meski dibiayai secara mandiri, empat personel Taring mampu menghadirkan penampilan solid di sejumlah kota seperti Tokyo dan Nagoya.
Tur ini mencakup penampilan di Festival Gekiko di Wildside Tokyo (17–18 April), Studio 246 Nagoya dalam acara “The Resistance Lives On Vol.1” (19 April), serta Pit Bar Tokyo (22 April).
Di setiap panggung, Taring membawakan sekitar 11 lagu unggulan, sebagian besar dari album terbaru mereka, Megatruh. Energi tinggi yang ditampilkan di atas panggung langsung disambut antusias penonton.
Interaksi intens dengan skena underground Jepang maupun penonton internasional menciptakan atmosfer konser yang hidup, dengan aksi moshing, headbang, wall of death, hingga slam dancing berlangsung tanpa henti.
Vokalis Hardi Rosady mengaku terkesan dengan respons penonton Jepang terhadap musik Taring, meski mayoritas lirik lagu menggunakan Bahasa Indonesia.
“Animo penonton Jepang luar biasa. Ini membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal, bisa dinikmati tanpa harus mengerti lirik,” ujar Rosady dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Jumat, 24 April 2026.
Dalam tur ini, Taring juga berkolaborasi dengan Tomoki Nakagawa dari band grindcore Jepang Kandarivas serta Richie untuk penampilan di Nagoya.
Mereka turut membawakan lagu “Akselerasi Maksimum” milik Seringai sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum Ricky Siahaan.
Formasi Taring diperkuat oleh Hardi Rosady (vokal), Ujang Rahmat alias Gebeg (drum), Wildan Wiliansyah (gitar), Ferry Ferdiansyah (bas), serta manajer Uya Waluya. Penampilan mereka di setiap kota dinilai maksimal dan konsisten.
Di Pit Bar Tokyo, Taring tampil bersama band pembuka Skeleton Bones dan Blood Prophecy, dua nama yang cukup dikenal di skena hardcore Jepang.
Gebeg menyebut tur ini bukan hanya soal tampil di luar negeri, tetapi juga membangun jaringan dan memperluas pengalaman.
“Kekuatan pertemanan antar musisi lintas negara sangat terasa. Kami mandiri, manggung sambil jualan merchandise untuk bertahan,” kata Gebeg.
Hardi menambahkan tantangan tampil di luar negeri bukan hanya soal teknis musik, tetapi juga kesiapan mental menghadapi perbedaan bahasa, budaya, hingga kondisi cuaca.
Antusiasme juga datang dari penonton asal Indonesia yang hadir langsung. Pepi, warga Indonesia yang telah lama tinggal di Jepang, mengaku bangga melihat Taring tampil di panggung internasional.
“Taring bukan sekadar manggung, tapi menunjukkan karakter dan energi kuat. Bangga melihat musik Indonesia diterima di Jepang,” ujar Pepi.
Sebelumnya, Taring juga pernah tampil di Jepang pada 2019 dalam ajang Everloud Festival bersama Insanity dan Seringai.
Tur kali ini menjadi bukti konsistensi mereka dalam membawa musik keras Indonesia ke panggung global.










