Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Banyumas
Masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan tempe mendoan, kudapan berbahan dasar tempe yang memiliki cita rasa khas dan cara pengolahan berbeda dibandingkan tempe goreng pada umumnya.
Tak hanya itu, teksturnya yang lembut dan rasa gurihnya menjadikan tempe mendoan digemari berbagai kalangan.
Lalu, dari mana sebenernya tempe medoan berasal?
Tempe mendoan merupakan salah satu kuliner tradisional khas Banyumas, Jawa Tengah, yang telah menjadi identitas budaya masyarakat setempat sejak puluhan tahun lalu.
Nama mendoan berasal dari bahasa Banyumasan, yakni kata “mendo” yang berarti setengah matang atau lembek. Sesuai namanya, tempe mendoan dibuat dari tempe yang diiris tipis dan lebar, kemudian dilapisi adonan tepung berbumbu dan digoreng sebentar hingga matang sebagian. Hasilnya, tekstur tempe mendoan cenderung lunak dan tidak kering.
Menurut catatan sejarah lisan masyarakat Banyumas, tempe mendoan mulai dikenal luas pada pertengahan abad ke-20.
Awalnya, makanan ini dibuat sebagai sajian rumahan yang sederhana dan ekonomis, karena tempe mudah diperoleh dan dapat diolah dengan cepat.
Seiring waktu, tempe mendoan berkembang menjadi makanan rakyat yang sering dijajakan di warung, pasar tradisional, hingga acara hajatan.
Ciri khas tempe mendoan terletak pada bumbu adonannya yang menggunakan campuran bawang putih, ketumbar, daun bawang, dan terkadang kencur, sehingga menghasilkan aroma dan rasa yang khas.
Tempe mendoan biasanya disajikan dalam keadaan hangat dan dinikmati bersama sambal kecap atau cabai rawit.
Kini, tempe mendoan tidak hanya dikenal di Banyumas, tetapi juga telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.
Bahkan, kuliner ini kerap menjadi menu wajib di rumah makan khas Jawa Tengah dan sering dijadikan oleh-oleh dalam bentuk tempe mendoan mentah siap goreng.
Sebagai warisan kuliner daerah, tempe mendoan tidak hanya mencerminkan kreativitas masyarakat Banyumas dalam mengolah bahan pangan sederhana, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan kehangatan dalam budaya makan masyarakat setempat.
Editor: Redaktur TVRINews
