TVRINews, Jakarta
Seniman, Naufal Abshar menyebut pengalaman mengikuti kegiatan plein air painting memberikan perspektif baru dalam proses berkarya. Ia yang selama ini lebih terbiasa melukis di studio harus beradaptasi dengan berbagai kondisi yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan ketika melukis langsung di luar ruangan.
Menurut Naufal, perbedaan utama terletak pada kondisi saat berkarya. Jika di studio berbagai hal dapat diatur dan dikontrol, plein air painting membuat seniman harus menghadapi faktor waktu, cuaca, hingga respons orang-orang di sekitar.
"Aku terbiasa melukis itu di studio. Di mana kalau di studio itu banyak hal-hal yang sangat manageable, sangat bisa dikontrol. Perspektif yang aku dapat sebenarnya dari unpredictability, waktu, climate, dan juga respons orang-orang," ujar Naufal kepada wartawan termasuk tvrinews.com usai kegiatan Artist Talk di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Kemudian ia mengatakan, kondisi tersebut membuat dirinya belajar melihat proses berkarya dari sudut pandang publik. Menurutnya, melukis di luar ruangan tidak selalu harus menghasilkan karya yang sempurna, tetapi bagaimana seniman mampu menangkap kesan dan esensi dari suasana yang ada di sekitarnya.
"Kalau misalnya kita berkarya di studio, we have to be perfect. Kalau di sini tuh di luar kita harus mencoba untuk we have to see in the helicopter view. Yang penting kita selesai, we can get the impression after that, let's move on," ucapnya.
Menurut Naufal, tantangan plein air painting juga terletak pada objek yang terus bergerak. Seniman harus mampu merangkum berbagai gerakan dan kondisi di sekitarnya ke dalam sebuah karya.
"Bagaimana kita me-capture atau merangkum gerakan-gerakan atau keadaan yang ada di surroundings. Karena lukisan itu hard to capture. Kalau di kamera kita bisa capture semuanya, tapi bagaimana kita capture the essence," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut proses melukis langsung di lapangan membutuhkan usaha dan daya tahan fisik. Saat berkarya di Pacitan, misalnya, proses melukis berlangsung sekitar tiga hingga empat jam.
Pengalaman tersebut membuat Naufal semakin memahami bahwa plein air painting bukan sekadar melukis pemandangan, melainkan proses menangkap esensi sebuah situasi secara langsung di tengah kondisi yang dinamis.
Sebagai informasi, pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration merupakan kolaborasi SBY Art Community bersama sejumlah institusi seni, yakni ISI Yogyakarta, ISI Solo, ITB, dan IKJ, serta seniman internasional Christopher Lehmpfuhl. Pameran ini mengangkat tema perdamaian, diplomasi budaya, dan keberlanjutan lingkungan sebagai bentuk kontribusi komunitas seni Indonesia.
Pameran tersebut menampilkan sekitar 150 karya lukisan, termasuk karya Susilo Bambang Yudhoyono, Christopher Lehmpfuhl, para perupa dari berbagai institusi seni di Indonesia, serta seniman cilik Indonesia. Rangkaian pameran juga diisi Artist Talk bertajuk Plein Air Painting as a Medium for Cross-Cultural and Cross-National Artistic Collaboration.










