
Penulis: Priskila Suryo P
TVRINews, Jakarta
Pementasan musikal Bukan Cinta Galih Ratna sukses membangkitkan nostalgia lintas generasi di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu, 7 Februari 2026. Kisah yang telah melekat dalam ingatan publik ini dihadirkan kembali dalam format musikal dengan pendekatan yang lebih segar dan relevan bagi generasi masa kini.
Nuansa nostalgia semakin terasa dengan kehadiran Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, yang dikenal luas sebagai pemeran Galih dalam film legendaris Gita Cinta dari SMA. Kehadirannya menjadi simbol pertemuan antara kenangan remaja era 1980-an dan interpretasi baru yang dihadirkan di panggung teater.
Produser pertunjukan, Yessi, mengungkapkan ide awal pementasan ini terinspirasi dari lagu-lagu karya Guruh Soekarnoputera yang populer pada era 1980-an. Ia ingin memperkenalkan kembali lagu-lagu tersebut kepada generasi muda melalui format yang lebih dekat dengan selera masa kini.
“Lagu-lagu era 80-an itu ingin kami perkenalkan kembali agar lebih familiar di telinga generasi sekarang. Karena itu kami memadukan generasi Z dan baby boomer dalam satu panggung musikal,”kata Yessi dalam keterangan yang diterima tvrinews, Minggu, 8 Februari 2026.

Format musikal dipilih karena dinilai mampu menyatukan kekuatan cerita dan musik secara emosional serta menghadirkan pertunjukan yang dinamis dan atraktif.
Sementara itu, sutradara sekaligus penulis naskah, Mikail Edwin Rizki, menyebut adaptasi kisah klasik ke dalam konteks kekinian bukan perkara mudah. Namun, ia merasa pementasan perdana berjalan sesuai dengan visi kreatif yang dirancang sejak awal.
“Mengangkat cerita lama di tengah perkembangan zaman memang menantang. Tapi saya lega dan bangga karena pementasan ini bisa berjalan sesuai harapan. Semoga ke depan industri teater musikal kita semakin berkembang dan berani tampil lebih inovatif,”ungkap Edwin.
Melalui Bukan Cinta Galih Ratna, kisah cinta klasik tidak sekadar dipentaskan ulang, melainkan dimaknai kembali dalam sudut pandang baru. Pertunjukan ini menjadi bukti bahwa cerita dan musik mampu menjembatani perbedaan generasi dalam satu ruang apresiasi yang sama.
Editor: Redaktur TVRINews
